Untuk mampu menulis, penulis butuh keberanian. Berani untuk memilih satu gagasan dari jutaan ide yang saling berkelindan dalam otak. Berani jujur, untuk ribuan kesempatan indah atas kebohongan.

Pengalaman berani, saya dapatkan dalam masa magang di Gedhe Foundation. Setelah sekian hari tak mampu berkompromi dengan sejumlah gagasan, hari ini aku putusan untuk memilih. Saya harus memilih topik apa yang harus saya tulis.

Semua topik itu penting. Tapi keputusan saya bukan urusan mana yang lebih penting, ini soal mana yang paling bisa saya selesaikan secepatnya.

Saat mengambil keputusan, faktor kognitif ternyata selalu datang terlambat. Urusan selera dan rasa nyaman muncul sebagai faktor penentu. Ini kali yang disebut dengan EQ (Emotional Intellegence).

Setelah itu mengalirlah! Keluarkan gagasan seperti air yang mengalir. Kadang aliran deras, kadang alirannya lambat. Itu natural, siapapun pernah mengalami situasi itu. Bebaskan diri Anda dari belenggu ala intelektual, tunjukkan dirimu sendiri.