Selain mendoan, Banyumas memiliki makanan khas yang dikenal dengan nama Nopia. Tidak hanya warga Banyumas saja yang mengenal Nopia, tapi dari berbagai daerah lain pun sudah tahu. Biasanya Nopia menjadi oleh-oleh para pengunjung dari luar daerah Banyumas.

Siapa sangka, Nopia menjadi sumber penghasilan Sudarto. Pria kelahiran Banyumas, 27 Oktober 1972 ini menghabiskan masa kecilnya di tempat kelahirannya Kalisube, salah satu Desa yang terletak di kabupaten Banyumas.
Keterbatasan biaya membuat Sudarto tidak mengenyam pendidikan. Hal itu tidak membuat pria paruh baya ini minder. Ia justeru dianugerahi ketrampilan yang luar biasa dalam membuat Nopia dan mini Nopia.

Saat menginjak remaja, ia merantau ke Jakarta bekerja di toko pusat oleh-oleh milik orang China. Ia bekerja sebagai pembuat Nopia. Tidak hanya di Jakarta, ia juga pernah bekerja di Cilacap dan Magelang yang kesemuanya adalah membuat Nopia.

Pada tahun 1995, Sudarto memperistri Tuminah dan menetap di Wlahar Wetan mengikuti istrinya. Ia dikaruniai dua anak, Dani Mardiani dan Wahyu Pratama.

Dani Mardiani sudah lulus SMA sekitar Tiga tahun yang lalu. Ia tidak melanjutkan belajarnya di Perguruan Tinggi.

“Keinginan untuk kuliah ada. Cuma Anak saya memilih kerja karena tahu kondisi keuangan kami belum mampu menguliahkannya” jelas Tuminah.

Anak keduanya, Wahyu Pratama duduk di kelas 3 SD. Beruntung, Sudarto memiliki Dani yang saat ini sudah bekerja dan bisa membantu menambah pendapatan keluarga.

Hari-hari pria 45 tahun ini bekerja membuat Nopia dan mini Nopia. Ia hanya dibantu oleh istrinya. Nopia dan mini Nopia buatan Sudarto sudah memiliki pelanggan setia. Beberapa di antaranya adalah toko-toko pusat oleh-oleh khas Banyumas yang berada di wilayah Sokaraja dan sekitarnya.

Dari hasil penjualan Nopia dan mini Nopia, Sudarto dapat memenuhi kebutuhan hidup anak dan istrinya.