Kalibagor – Tusuk sate atau sujen menjadi salah satu dari sekian potensi yang ada di desa Kalibagor. Tepatnya di Jalan Bong Asinan, beberapa warganya menjadi pengrajin tusuk sate.

Di temui di rumahnya RT 06 RW 03 No. 37, Kartisem, nampak masih semangat meski usianya sudah memasuki angka ke-75 tahun. Dia menggantungkan hidupnya dari usaha pembuatan tusuk sate ini.

“Dulu saya berdagang di pasar, terus tetangga ada yang menjadi pengrajin sujen. Saya ikut-ikutan,” tuturnya.

Seorang diri, Kartisem memotong-motong sebilah bambu menjadi ukuran 22 cm dan 24 cm. Kemudian mengulitinya dan membelahnya tipis-tipis seukuran tusuk sate yang biasa kita temui.
Setelahnya, tusuk sate di jemur hingga berwarna coklat, tandanya tusuk sate sudah mengering. Ujung tusuk sate di runcingkan menggunakan sebuah mesin amplas sederhana yang dia beli dari seorang pengepul. Tahap akhir dengan tangannya, tusuk sate yang sudah jadi itu dia haluskan.

“Tepiannya kan masih tajam, harus di gosok-gosok ke tempat yang kasar biar halus,” ucapnya.

Terhitung sudah 15 tahun, Kartisem menjadi pengrajin tusuk sate. Setiap setengah bulan sekali, seorang pengepul dari Semarang menjemput sujen hasil buatannya.

“Saya beli bambu di desa karang Ndadap. Satu bilah bambu bisa hasilnya sampai 15.000 biji sujen. Nanti ada pengepul yang datang ke sini untuk mengambil tusuk sate ini,” tambahnya.

Di tempat lain, Daryati (40), RT 06 RW 03 No. 16. Seorang pengrajin tusuk sate sejak harga Rp. 2.000,-/ 1000 tusuk sate hingga sekarang berkisar Rp.6.000,-Rp.10.000,-. Daryati membuat tusuk sate berukuran 22 cm besar dan kecil. Bermodalkan Rp. 100.000, hasil sujennya dia setorkan kepada pengepul yang masih sekitar komplek rumahnya.

“Saya setorkan sujennya ke Bu Ning setiap seminggu sekali. Saya buat ukuran besar yang tanpa di lancipi dan yang biasa ukuran kecil,” ungkapnya.

Usaha tusuk sate ini menjadi sumber pokok penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.