Suroso Santoso atau yang lebih dikenal dengan Mbah Roso, merupakan seorang laki-laki paruh baya yang berprofesi utama sebagai tim kameramen di suatu kelompok kajian tertentu. Ia memiliki seorang istri dan seorang anak. Telah lebih dari sepuluh tahun ia menjalani profesi sebagai kameramen. Namun di akhir tahun 2016, ia dan istrinya mulai mencoba peruntungan dengan menjual kripik singkong dan talas aneka rasa. Menurutnya, hal tersebut ia lakukan untuk bisa memberikan kesibukan bermanfaat yang bisa mereka lakukan di waktu luang mereka.

Kripik yang mereka produksi bukanlah kripik biasa, terdapat sisi menarik yang menjadi nilai plus. Kebersihan dan kesehatan menjadi prioritas mereka. Mereka sengaja tidak mempekerjakan karyawan demi dapat menjaga kualitas produk.

“Jika banyak orang yang turut serta dalam pembuatan, menurut saya tingkat kebersihan akan menurun” jelasnya saat ditanya mengenai alasan mengapa tidak mempekerjakan karyawan.

Baginya, bisnis tersebut bukan hanya usaha mendapatkan uang, namun juga usaha memberikan kemanfaatan terhadap sesama. Hal tersebutlah yang membuatnya dan istrinya berkomitmen untuk sangat memperhatikan segalanya, mulai dari talas dan singkong pilihan, kemudian kebersihan kripik talas maupun singkong yang akan mereka buat dicucinya sebanyak 3 kali dengan air bersih, selanjutnya dilanjutkan dengan proses penggorengan yang menggunakan minyak kemasan. Berbeda dengan produsen lain yang terkadang menggunakan minyak curah yang telah dipakai beberapa kali. Selain membahayakan orang lain, juga mengotori rezeki mereka. Selanjutnya, varian rasa yang digunakan untuk membumbui kripik merupakan bumbu yang ia beli di toko yang telah memperoleh izin menurut Dinas Kesehatan. Sudah pasti kandungan berbahaya di dalamnya bisa dikatakan tidak ada. Dengan sedikit bumbu saja, rasa bumbu pada kripik sudah terasa.

Bukan hanya memperhatikan masalah kebersihan, mereka juga memperhatikan peraturan hukum, yakni mendaftarkan produk mereka di laboratorium penelitian untuk diteliti apakah produk mereka menyehatkan atau tidak. Mbah Roso dan istrinya mengaku takut jika produknya dipasarkan tanpa disertai sertifikat dari Dinas Kesehatan.

Banyaknya nilai plus pada produk kripiknya, menjadikan wajar jika produknya diberi harga yang lebih mahal dibandingkan yang lainnya.

Harga mahal, menjadi momok tersendiri bagi warga desa. Namun nyatanya hal tersebut tidak menjadikan Mbah Roso dan istrinya mundur, bagi mereka bisnis tersebut bukan sekadar mengejar materi, namun juga sebagai ajang menyadarkan masyarakat akan pentingnya kualitas suatu produk. Bisnis harus punya konsep matang, yang sehat, mahal, dan pastinya menyehatkan menjadi prioritas utama bagi mereka. Yang mereka jual harus sama layaknya dengan apa yang mereka konsumsi, begitu tambah Mbah Roso diakhir perbincangan.