Batik Tulis Mromong

Batik Tulis Mromong

Batik merupakan sebuah warisan nenek moyang kita yang penuh dengan nilai sejarah dan filosofi, mayoritas orang Indonesia memiliki batik dengan karakteristik dan nama-nama yang berbeda masing-masing. Di Desa Wlahar Wetan terdapat pengrajin Batik Tulis, yaitu Ibu Mariyah yang memberi nama batiknya dengan Batik Tulis Mromong.

Berawal dari hobi membatik, Ibu Mariyah (35) akhirnya diberi kesempatan untuk mengikuti sebuah pelatihan membatik di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) selama kurang lebih 3 tahun, yang diselenggarakan oleh Balai Desa Wlahar Wetan Kalibagor. Pembautan Batik Tulis Mromong melibatkan Ibu Rumah Tangga untuk pelestarian batik Indonesia dan meniptakan kekhassan batik di Desa Wlahar Wetan. Karena hal itu, Ibu Mariyah memulai usaha membuat Batik Tulis Mromong yang akhirnya menjadi kebanggaan orang Wlahar Wetan.

Batik Tulis merupakan salah satu proses produksi batik yang dikerjakan secara manual. Alat yang digunakan untuk membatik disebut canting yang terbuat dari bahan bambu, untuk membatiknya sendiri menggunakan malam/pewarna.

Cara membuat batik tulis yaitu :

Siapakan kain putih (bahan premis/sanfores)

Menggambar sketsa motif batik menggunakan pensil

Torehkan cairan malam atau pewarna menggunakan canting tulis dengan teliti

Setelah menorehkan malam pada kain, maka setelah itu diberi pewarna, lorot malam, bilas dengan soda, dijemur, kemudian disetrika.

Bagi anda yang belum tahu batik tulis seperti apa, iri-irinya seperti, motif tidak berulang, kombinasi warna lebih banyak, dan warna dasarnya bisa erah dan gelap.

Ibu Mariyah memunyai beberapa koleksi Batik Tulis, diantaranya Batik Tulis Lombon, Wayang, dan alap-alap. Setiap kain batik memiliki panjang 2,35 m, harga untuk satuan kainnya Rp 175.000,- (Wihdatul Ummah)

Kunjungan Tim PPL Fakultas Dakwah  Ke Oemah Gedhe

Kunjungan Tim PPL Fakultas Dakwah Ke Oemah Gedhe

Tim PPL Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto mengunjungi kantor Gedhe Foundation, Senin (20/02). Tim PPL Fakultas Dakwah yang hadir yakni Alif Budiono, Nur Azizah, dan Mahbub Nasir. Tujuan kunjungan utama mereka adalah menyerahkan blanko penilaian kepada guru pamong mahasiswanya.
Sukarni, selaku guru pamong menyambut hangat kunjungan tim Fakultas Dakwah di kantor Gedhe Foundation yang berada di Kalibagor Banyumas.
Pada kunjungannya, Dosen Pembimbing Lapangan, Alif Budiono menyerahkan kenang-kenangan kepada Gedhe Foundation. Kenang-kenangan tersebut sebagai ucapan terima kasih karena Gedhe memberi kesempatan mahasiswa Progam Studi KPI menimba ilmu dan pengalaman.
Ni’matul Khoeriyah, salah satu mahasiswa KPI mengaku senang dapat PPL di Gedhe Foundation.
“Saya senang PPL di Gedhe karena santai namun tetap serius. Terus sistem pembelajaran di sini memang pembelajaran dewasa. Jadi saya sangat terbantu untuk bisa konsultasi di luar jam kerja,” ujarnya.

Nopia Sumber Penghasilan Sudarto

Nopia Sumber Penghasilan Sudarto

Selain mendoan, Banyumas memiliki makanan khas yang dikenal dengan nama Nopia. Tidak hanya warga Banyumas saja yang mengenal Nopia, tapi dari berbagai daerah lain pun sudah tahu. Biasanya Nopia menjadi oleh-oleh para pengunjung dari luar daerah Banyumas.

Siapa sangka, Nopia menjadi sumber penghasilan Sudarto. Pria kelahiran Banyumas, 27 Oktober 1972 ini menghabiskan masa kecilnya di tempat kelahirannya Kalisube, salah satu Desa yang terletak di kabupaten Banyumas.
Keterbatasan biaya membuat Sudarto tidak mengenyam pendidikan. Hal itu tidak membuat pria paruh baya ini minder. Ia justeru dianugerahi ketrampilan yang luar biasa dalam membuat Nopia dan mini Nopia.

Saat menginjak remaja, ia merantau ke Jakarta bekerja di toko pusat oleh-oleh milik orang China. Ia bekerja sebagai pembuat Nopia. Tidak hanya di Jakarta, ia juga pernah bekerja di Cilacap dan Magelang yang kesemuanya adalah membuat Nopia.

Pada tahun 1995, Sudarto memperistri Tuminah dan menetap di Wlahar Wetan mengikuti istrinya. Ia dikaruniai dua anak, Dani Mardiani dan Wahyu Pratama.

Dani Mardiani sudah lulus SMA sekitar Tiga tahun yang lalu. Ia tidak melanjutkan belajarnya di Perguruan Tinggi.

“Keinginan untuk kuliah ada. Cuma Anak saya memilih kerja karena tahu kondisi keuangan kami belum mampu menguliahkannya” jelas Tuminah.

Anak keduanya, Wahyu Pratama duduk di kelas 3 SD. Beruntung, Sudarto memiliki Dani yang saat ini sudah bekerja dan bisa membantu menambah pendapatan keluarga.

Hari-hari pria 45 tahun ini bekerja membuat Nopia dan mini Nopia. Ia hanya dibantu oleh istrinya. Nopia dan mini Nopia buatan Sudarto sudah memiliki pelanggan setia. Beberapa di antaranya adalah toko-toko pusat oleh-oleh khas Banyumas yang berada di wilayah Sokaraja dan sekitarnya.

Dari hasil penjualan Nopia dan mini Nopia, Sudarto dapat memenuhi kebutuhan hidup anak dan istrinya.

Narsun: Dulu Membuat Wayang Itu Hobi, Kini Jadi Profesi

Narsun: Dulu Membuat Wayang Itu Hobi, Kini Jadi Profesi

Narsun, Pengrajin Wayang Desa Wlahar Wetan

Bagi masyarakat Wlahar Wetan, nama Narsun tidak lagi asing di telinga mereka. Pria kelahiran Banyumas, 71 tahun silam ini, memiliki kesukaan yang unik. Bagi Narsun, wayang adalah jiwanya.

Narsun kecil sangat menyukai wayang. Berawal dari hanya melihat orang-orang di sekitarnya membuat wayang, ia lalu belajar membuat wayang secara otodidak. Bagi Narsun, membuat wayang itu sangat menyenangkan.

Ia selalu membuat wayang-wayang dengan penuh perasaan dan ketelitian.

“Kalau sudah hobi memang susah untuk dihentikan, yang penting hobinya bermanfaat,” ucap pria yang sudah penuh uban di rambutnya.

Saat ini, Narsun bekerja di bengkel miliknya. Sambil menunggu pelanggan, atau setelah menyelesaikan pekerjaan bengkel, ia mengisi waktu luangnya dengan membuat wayang. Kadang ia menawarkan wayang-wayangnya ke orang-orang yang datang ke bengkel.

Selain bekerja di bengkel, terkadang pria yang sudah mulai senja ini juga menjadi dalang di beberapa acara tertentu.

“Kadang kalau diundang, disuruh menjadi Dalang, saya berangkat. Rezeki tidak boleh ditolak,” pungkasnya dengan senyum.

Menulis Butuh Keberanian

Menulis Butuh Keberanian

Untuk mampu menulis, penulis butuh keberanian. Berani untuk memilih satu gagasan dari jutaan ide yang saling berkelindan dalam otak. Berani jujur, untuk ribuan kesempatan indah atas kebohongan.

Pengalaman berani, saya dapatkan dalam masa magang di Gedhe Foundation. Setelah sekian hari tak mampu berkompromi dengan sejumlah gagasan, hari ini aku putusan untuk memilih. Saya harus memilih topik apa yang harus saya tulis.

Semua topik itu penting. Tapi keputusan saya bukan urusan mana yang lebih penting, ini soal mana yang paling bisa saya selesaikan secepatnya.

Saat mengambil keputusan, faktor kognitif ternyata selalu datang terlambat. Urusan selera dan rasa nyaman muncul sebagai faktor penentu. Ini kali yang disebut dengan EQ (Emotional Intellegence).

Setelah itu mengalirlah! Keluarkan gagasan seperti air yang mengalir. Kadang aliran deras, kadang alirannya lambat. Itu natural, siapapun pernah mengalami situasi itu. Bebaskan diri Anda dari belenggu ala intelektual, tunjukkan dirimu sendiri.